Pendekatan Inquiry dan Discovery serta pendekatan multikultural
AB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Artinya bahwa
proses pendidikan itu dilakukan secara sengaja dan penuh dengan
kesadaran dan ditambah lagi dengan terencana melalui proses belajar
mengajar (Tim penyusun, 2003).
Hal ini menunjukkan bahwa
hakekat pendidikan adalah sebuah pengembangan kecerdasan yang
melahirkan sebuah karakter. Pendidikan dapat dipahami dan didekati
dari berbagai dimensi. Pendidikan itu merupakan proses yang tidak
akan pernah selesai (never
ending process). Manusia
itu adalah hasil dari proses belajar mengajar dan belajar itu
merupakan salah satu proses didalam kepribadian siswa (Hakim, 2000:1)
Proses belajar tersebut sudah
dimulai sejak manusia ada di dunia ini. Ia lahir tanpa memiliki
pengetahuan, sikap, dan kecakapan apa pun, kemudian tumbuh dan
berkembang menjadi mengetahui, mengenal, dan menguasai banyak hal.
Itu terjadi karena proses belajar dengan menggunakan potensi dan
kapasitas diri yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Dan didalam
proses belajar mengajar itu perlu diperhatikan mengenai
pendekatan-pendekatan dalam proses belajar mengajar.
Dalam proses pembelajaran
terdapat komponen siswa sebagai obyek yang sedang belajar dan guru
sebagai pengajar untuk memberikan materi pelajaran guna terjadi
perubahan pada diri siswa. Mengajar merupakan suatu kegiatan yang
dilakukan seseorang yang memiliki pengetahuan atau keterampilan yang
lebih dari pada yang diajar, untuk memberikan suatu pengertian,
kecakapan atau ketangkasan. Seperti dikemukakan oleh Slameto (2003:
97) bahwa ”kegiatan mengajar meliputi penyampaian pengetahuan,
menularkan sikap, kecakapan atau keterampilan yang diatur sesuai
dengan lingkungan dan yang menghubungkannya dengan subyek yang sedang
diajar”.
Dengan pendekatan sistem, arah
dan tujuan pembelajaran dapat direncanakan dengan jelas. Dengan
tujuan yang jelas, maka kita dapat menetapkan arah dan sasaran dengan
pasti. Perumusan tujuan merupakan salah satu karakteristik pendekatan
sistem. Penentuan komponen-komponen pembelajaran pada dasarnya
diarahkan untuk mencapai tujuan. Melalui pendekatan sistem, setiap
guru dapat lebih memahami tujuan dan arah pembelajaran untuk
menentukan langkah-langkah pembelajaran dan pengembangan komponen
yang lain, dan dapat dijadikan kriteria efektivitas proses
pembelajaran.
- Rumusan Masalah
- Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Inquiry – Discovery dan Implementasi dalam pembelajaran PKN SD
- Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Multikultural dan Implementasi dalam pembelajaran PKN SD
- Tujuan
- Mengetahui tentang Pendekatan Inquiry – Discovery dan Implementasi dalam pembelajaran PKN SD
- Mengetahui tentang Pendekatan Multikultural dan Implementasi dalam pembelajaran PKN SD
BAB
II
PEMBAHASAN
1.1
PEMBELAJARAN INQUIRY DAN DISCOVERY
- Pendektan Metode Penemuan (Discovery-Inquiry) dalam Pembelajaran PKN SD
Metode
penemuan adalah cara penyajian pelajaran yang banyak melibatkan siswa
dalam proses-proses mental dalam rangka penemuannya. Menurut
Sund (Sudirman N, 1992 ), discovery adalah
proses mental, dan dalam proses itu individu mengasimilasi konsep dan
prinsip-prinsip. Istilah asing yang sering digunakan untuk metode ini
ialah discovery yang
berarti penemuan, atau inquiry yang
berarti mencari. Mengenai penggunaan
istilah discovery dan inquiry para
ahli terbagi ke dalam dua pendapat, yaitu :
- Istilah-istilah discovery dan inquiry dapat diartikan dengan maksud yang sama dan digunakan saling bergantian atau keduanya sekaligus.
- Istilah discovery, sekalipun secara umum menunjuk kepada pengertian yang sama dengan inquiry, pada hakikatnya mengandung perbedaan dengan inquiry.
Moh.
Amin (Sudirman N, 1992 ) menjelaskan bahwa pengajaran discovery harus
meliputi pengalaman-pengalaman belajar untuk menjamin siswa dapat
mengembangkan proses-proses discovery. Inquiry dibentuk
dan meliputi discovery dan
lebih banyak lagi. Dengan kata lain, inquiry adalah
suatu perluasan proses-proses discovery yang
digunakan dalam cara lebih dewasa. Sebagai tambahan pada
proses-proses discovery, inquiry mengandung
proses-proses mental yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya
merumuskan problema sendiri, merancang eksperimen, melakukan
eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan,
mempunyai sikap-sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka,
dan sebagainya.
Mengenai
kelebihan dan kekurangan metode penemuan/discovery-inquiry diuraikan
oleh Sudirman N, dkk (1992) sebagai berikut :
Kelebihan
metode penemuan/discovery-inquiry :
- Strategi pengajaran menjadi berubah dari yang bersifat penyajian informasi oleh guru kepada siswa sebagai penerima informasi yang baik tetapi proses mentalnya berkadar rendah, menjadi pengajaran yang menekankan kepada proses pengolahan informasi di mana siswa yang aktif mencari dan mengolah sendiri informasi yang kadar proses mentalnya lebih tinggi atau lebih banyak.
- Siswa akan mengerti konsep-konsep dasar atau ide lebih baik.
- Membantu siswa dalam menggunakan ingatan dan dalam rangka transfer kepada siutuasi-situasi proses belajar yang baru.
- Mendorong siswa untuk berfikur dan bekerja atas inisiatifnya sendiri.
- Memungkinkan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar yang tida hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar.
- Metode ini dapat memperkaya dan memperdalam materi yang dipelajari sehingga retensinya 9tahan lama dalam ingatan) menjadi lebih baik.
Kekurangan
metode penemuan/discovery-inquiry :
- Memerlukan perubahan kebiasaan cara belajar siswa yang menerima informasi dari guru apa adanya, ke arah membiasakan belajar mandiri dan berkelompok dengan mencari dan mengolah informasi sendiri. Mengubah kebiasaan bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi kebiasaan yang telah bertahun-tahun dilakukan.
- Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing siswa dalam belajar. Inipun bukan pekerjaan yang mudah karena umumnya guru merasa belum puas kalau tidak banyak menyajikan informasi (ceramah).
- Metode ini memberikan kebebasan pada siswa dalam belajar, tetapi tidak berarti menjamin bahwa siswa belajar dengan tekun, penuh aktivitas, dan terarah.
- Cara belajar siswa dalam metode ini menuntut bimbingan guru yang lebih baik. Dalam kondisi siswa banyak (kelas besar) dan guru terbatas, agaknya metode ini sulit terlaksana dengan baik.
Jenis-Jenis
Metode Penemuan (Discovery-Inquiry)
Moh.
Amin (Sudirman N, 1992) menguraikan tentang tujuh
jenis inquiry-discovery yang
dapat diikuti sebagai berikut :
- Guided Discovery-Inquiry Lab. Lesson
Sebagian
perencanaan dibuat oleh guru. Selain itu guru menyediakan kesempatan
bimbingan atau petunjuk yang cukup luas kepada siswa. Dalam hal ini
siswa tidak merumuskan problema, sementara petunjuk yang cukup luas
tentang bagaimana menyusun dan mencatat diberikan oleh guru.
- Modified Discovery-Inquiry
Guru
hanya memberikan problema saja. Biasanya disediakan pula bahan atau
alat-alat yang diperlukan, kemudian siswa diundang untuk
memecahkannya melalui pengamatan, eksplorasi dan atau melalui
prosedur penelitian untuk memperoleh jawabannya. Pemecahan masalah
dilakukan atas inisiatif dan caranya sendiri secara berkelompok atau
perseorangan. Guru berperan sebagai pendorong, nara sumber, dan
memberikan bantuan yang diperlukan untuk menjamin kelancaran proses
belajar siswa.
- Free Inquiry
Kegiatan free
inquiry dilakukan
setelah siswa mempelajarai dan mengerti bagaimana memecahkan suatu
problema dan telah memperoleh pengetahuan cukup tentang bidang studi
tertentu serta telah melakukan modified
discovery-inquiry.
Dalam metode ini siswa harus mengidentifikasi dan merumuskan macam
problema yang akan dipelajari atau dipecahkan.
- Invitation Into Inquiry
Siswa
dilibatkan dalam proses pemecahan problema sebagaimana cara-cara yang
lazim diikuti scientist. Suatu undangan (invitation) memberikan suatu
problema kepada siswa, dan melalui pertanyaan masalah yang telah
direncanakan dengan hati-hati mengundang siswa untuk melakukan
beberapa kegiatan atau kalau mungkin, semua kegiatan sebagai berikut
: merancang eksperimen, merumuskan hipotesis, menetapkan kontrol,
menentukan sebab akibat, menginterpretasi datadan membuat grafik
- Inquiry Role Approach
Inquiry
Role Approachmerupakan
kegiatan proses belajar yang melibatkan siswa dalam tim-tim yang
masing-masing terdiri tas empat anggota untuk memecahkan invitation
into inquiry.
Masing-masing anggota tim diberi tugas suatu peranan yang
berbeda-beda sebagai berikut : koodinator tim, penasihat teknis,
pencatat data dan evaluator proses.
- Pictorial Riddle
Pendekatan
dengan menggunakan pictorial
riddle adalah
salah satu teknik atau metode untuk mengembangkan motivasi dan minat
siswa di dalam diskusi kelompok kecil maupun besar. Gambar atau
peragaan, peragaan, atau situasi yang sesungguhnya dapat digunakan
untuk meningkatkan cara berfikir kritis dan kreatif siswa.
Suatu ridlle biasanya
berupa gambar di papan tulis, papan poster, atau diproyeksikan dari
suatu trasparansi, kemudian guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan
dengan ridlle itu.
- Synectics Lesson
Pada
dasarnya syntetics memusatkan
pada keterlibatan siswa untyuk membuat berbagai macam bentuk metafora
(kiasan) supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan
kreativitasnya. Hal ini dapat dilaksankan karena metafora dapat
membantu dalam melepaskan “ikatan struktur mental” yang melekat
kuat dalam memandang suatu problema sehingga dapat menunjang
timbulnya ide-ide kre
1.2
Pendekatan
Multikultural dan Implementasi dalam pembelajaran PKN SD
A. Pendekatan
Multikultural dalam Pembelajaran PKN SD
.
Teori Pendidikan Multikultural
Pendidikan
multikultural merupakan pendidikan yang membahas mengenai perbedaan
budaya dan etnis secara mengglobal sehingga pembelajarannya cukup
rumit karena tidak membahas hanya etnis dan budaya saja, tetapi juga
membahas emic. Pendidikan multikultural dalam pandangan para pakar
mendefiniskan atau menjelaskan pendidikan multicultural dari berbagai
perspektifnya masing-masing. Para pakar yang mengeluarkan teori-teori
tersebut yaitu sebagai berikut:
a.
Horrace Kallen
Horrace
Kallen memberikan pendapat mengenai multicultural yaitu jika budaya
suatu bangsa memiliki banyak segi, nilai-nilai dan lainnya budaya
tersebut disebut oleh Horrace Kallen sebagai pluralisme budaya atau
Cultularl
Pluralism).
Horrace menggambarkan pluralism budaya sebagai penghargaan berbagai
tingkat perbedaan, tetapi masih terdapat dalam batas-batas dalam
menjaga persatuan nasional. Kallen dalam penjelasannya mencoba
menggambarkan penjelasannya dalam lingkup daerah yaitu Amerika yang
mana masing-masing etnis dan budaya di Amerika saling berkontribusi
unik sehingga menambah variasi etnik dan budaya di Amerika. Dalam
teorinya juga, Kallen menjelaskan sekaligus mengakui bahwa budaya
yang dominan dalam masyarakat harus juga diakui oleh masyarakat
sendiri. sebagai contoh yaitu keberagaman budaya yang ada di Jawa,
budaya yang paling dominan di Jawa yaitu budaya Jawa namun juga
terdapat budaya-budaya yang sedikit dominan di Jawa yang akan
menambah variasi dan keberagaman budaya yang ada di Jawa.
b.
Jams A. Banks
Jams
A. Banks merupakan seorang yang dikenal sebagai perintis dari teori
pendidikan multicultural hal tersebut dikarenakan Banks lebih
menekankan dan lebih terfokus pada pendidikan multicultural. Menurut
Banks, pendidikan lebih mengarah pada bagaimana berfikir dari pada
apa yang dipikirkan serta Banks juga menjelaskan bahwa siswa harus
diajari tentang bagaimana cara memahami berbagai jenis pengetahuan,
konstruksi pengetahuan serta interpretasi yang berbeda-beda walaupun
terkadang interpretasi pengetahuan tersebut berlawanan dengan pikiran
siswa itu sendiri. Banks mengindentifikasikan tiga kelompok yang
berbeda dalam hal keberadaan kelompok-kelompok budaya di Amerika
Serikat. Yang pertama yaitu tradisionalis barat. Kelompok ini
beranggapan bahwa mereka berada dalam keadaan terancam dan berbahaya
karena mengenyampingkan kelompok fiminis, minoritas dan reformasi
multicultural yang lain. Tapi kelompok ini masih sedikit memberikan
perhatian terhadap pengajaran keanekaragaman atau multikultur.
c.
Bill Martin
Bill
Martin dalam tulisannya yang berjudul Multikulturalisme:
Consumerist or Transformational?
bahwa keseluruhan isu tentang multikulturalisme memunculkan
pertanyaan tentang “perbedaan” yang Nampak sudah dilakukan
berbagai teori filsafat atau teori sosial. Martin dalam pendapatnya
meyebut afrosentris dan tradisional barat itu sebagai “Consumerist
Multiculturalism”. Yang
mana pendapatnya tersebut menentang afrosentris dan tradisional
barat. Martin mengusulkan suatu hal yang baru yaitu multikulturalisme
bukanlah konsumeris melainkan berupa transformational yang memerlukan
kerangka kerja. Martin mngatakan bahwa disamping isu tentang kelas
sosial ras, etnis, dan pandangan lain yang berbeda sehingga
diperlukan komunikasi tentang berbagai segi pandangan yang berbeda
pula. Masyarakat harus memiliki visi kolektif yang bertipe baru dari
berubahan sosial menuju kea rah multikulturalisme yaitu sebuah visi
yang muncul lewat transformasi.
d.
Martin J. Beck Matustik
Menurut
Martin J. Beck Matustik, perdebatan tentang masyarakat multikultural
yang terjadi di masyarakat Barat selalu berkaitan dengan norma atau
tatanan masyarakat. Ia mengatakan bahwa semua segi dalam setiap
pembicaraan budaya saat ini selalu mengarah pada pemikiran kembali
norma barat atau The
Western Canon
yang mengakui bahwa dunia multikultural adalah dunia yang benar-benar
ada dan nyata. Selain itu, Matustik juga beranggapan bahwa teori
multikulturalisme meliputi berbagai hal yang mengarah kepada
liberalisasi pendidikan dan politik Plato. Matustik yakin bahwa
masyarakat harus menciptakan pencerahan multikultural yang baru yaitu
multikulturalisme lokal yang semuanya saling berkaitan atau
berhubungan secara global sebagai lawan dari monokultur nasional.
e.
Judith M. Green
Menurut Green, keunikan
multikulturalisme tidak hanya dimiliki oleh Amerika, melainkan juga
negara-negara lain yang mana negara tersebutpun harus
mengakomodasikan berbagai kelompok kecil dari berbagai budaya yang
berbeda-beda. Amerika dalam pandangan Green merupakan negara yang
melakukan perubahan besar dalam transformasi berkat pendidikan, hal
tersebut dikarenakan Amerika menganggap bahwa cara untuk melakukan
perubahan yang efektif adalah melalui pendidikan tidak terkecuali
pendidikan multikulturalnya. Amerika yang sejak keberadaannya telah
memiliki masyarakat yang mempunyai kebudayaan yang beragam yang
dimana berbagai budaya telah bersatu melalui perjuangan, interaksi
serta kerja sama.
- Pendekatan Pendidikan Multikultural
Dengan adanya teori-teori yang
diperkenalkan oleh beberapa ahli tersebut, maka diperlukan adanya
sebuah pendekatan tentang pendidikan multikultural. Beberapa
pendidikan tersebut berupa:
1.
Pendekatan Historis
Pendekatan
ini mengandaikan bahwa materi yang diajarkan kepada pembelajar dengan
menengok kembali ke belakang. Maksudnya agar pebelajar dan pembelajar
mempunyai kerangka berpikir yang komplit sampai ke belakang untuk
kemudian mereflesikan untuk masa sekarang atau mendatang. Dengan
demikian materi yang diajarkan bisa ditinjau secara kritis dan
dinamis.
2.
Pendekatan Sosiologis
Pendekatan
ini mengandaikan terjadinya proses kontekstualisasi atas apa yang
pernah terjadi di masa sebelumnya atau datangnya di masa lampau.
Dengan pendekatan ini materi yang diajarkan bisa menjadi
aktual, bukan karena dibuat-buat tetapi karena senantiasa sesuai
dengan perkembangan zaman yang terjadi, dan tidak bersifat
indoktrinisasi karena kerangka berpikir yang dibangun adalah kerangka
berpikir kekinian. Pendekatan ini bisa digabungkan dengan metode
kedua, yakni metode pengayaan.
3.
Pendekatan Kultural
Pendekatan
ini menitikberatkan kepada otentisitas dan tradisi yang berkembang.
Dengan pendekatan ini pembelajar bisa melihat mana tradisi yang
otentik dan mana yang tidak. Secara otolatis pebelajar juga bisa
mengetahui mana tradisi arab dan mana tradisi yang datang dari islam.
4.
Pendekatan Psikologis
Pedekatan
ini berusaha memperhatikan situasi psikologis perseorangan secara
tersendiri dan mandiri. Artinya masing-masing pembelajar harus
dilihat sebagai manusia mandiri dan unik dengan karakter dan
kemampuan yang dimilikinya. Pendekatan ini menuntut seorang pebelajar
harus cerdas dan pandai melihat kecenderungan pembelajar sehingga ia
bisa mengetahui metode-metode mana saja yang cocok untuk pembelajar.
5.
Pendekatan Estetik
Pendekatan
estetik pada dasarnya mengajarkan pembelajar untuk berlaku sopan dan
santun, damai, ramah, dan mencintai keindahan. Sebab segala materi
kalau hanya didekati secara doktrinal dan menekan adanya
otoritas-otoritas kebenaran maka pembelajar akan cenderung bersikap
kasar. Sehingga mereka memerlukan pendekatan ini untuk
mengapresiasikan segala gejala yang terjadi di masyarakat dengan
melihatnya sebagai bagian dari dinamika kehidupan yang bernilai seni
dan estetis.
6.
Pendekatan Berprespektif Gender
Pendekatan ini mecoba
memberikan penyadaran kepada pembelajar untuk tidak membedakan
jenis kelamin karena sebenarnya jenis kelamin bukanlah hal yang
menghalangi seseorang untuk mencapai kesuksesan. Dengan pendekatan
ini, segala bentuk konstruksi sosial yang ada di sekolah yang
menyatakan bahwa perempuan berada di bawah laki-laki bisa
dihilangkan.
- Kelebihan dan Kekurangan Serta Solusinya
1.
Kelebihan Pendidikan Multikultural
Dalam pendidikan
multikultural, ada dimensi-dimensi yang harus diperhatikan. Menurut
James Blank (2003) ada lima dimensi pendidikan multikultural yang
saling berkaitan, yaitu sebagai berikut:
a.
Mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk
mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi, dan teori dalam mata
pelajaran.
b.
Membawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah
mata pelajaran.
c.
Menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa
dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik.
d.
Mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan
metode pengajarannya.
e.
Melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam berbagai
kegiatan, berinteraksi dengan seluruh siswa dan staf yang berbeda ras
dan etnis untuk menciptakan budaya akademik.
2.
Kekurangan Pendidikan Multikultural dan Solusinya
Mengimplementasikan pendidikan
multikultural di sekolah mungkin saja akan mengalami hambatan atau
kendala dalam pelaksanaannya. Ada beberapa hal yang harus mendapat
perhatian dan sejak awal perlu diantisipasi antara lain sebagai
berikut:
a.
Perbedaan Pemaknaan terhadap Pendidikan Multikultural
Perbedaan pemaknaan akan
menyebabkan perbedaan dalam mengimplementasikannya. Multikultural
sering dimaknai orang hanya sebagai multi etnis sehingga bila di
sekolah mereka ternyata siswanya homogen etnisnya, maka dirasa tidak
perlu memberikan pendidikan multikultural pada mereka. Padahal
pengertian pendidikan multikultural lebih luas dari itu. H.A.R.
Tilaar (2002) mengatakan bahwa pendidikan multikultural tidak lagi
semata-mata terfokus pada perbedaan etnis yang berkaitan dengan
masalah budaya dan agama, tetapi lebih luas dari itu. Pendidikan
multikultural mencakup arti dan tujuan untuk mencapai sikap
toleransi, menghargai keragaman, dan perbedaan, menghargai HAM,
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menyukai hidup damai, dan
demokratis. Jadi, tidak sekadar mengetahui tata cara hidup suatu
etnis atau suku bangsa tertentu.
b.
Munculnya Gejala Diskontinuitas
Dalam pendidikan multikultural
yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan sering
terjadi diskontinuitas nilai budaya. Peserta didik memiliki latar
belakang sosiokultural di masyarakatnya sangat berbeda dengan yang
terdapat di sekolah sehingga mereka mendapat kesulitan dalam
beradaptasi di lingkungan sekolah. Tugas pendidikan, khususnya
sekolah cukup berat. Di antaranya adalah mengembangkan kemungkinan
terjadinya kontinuitas dan memeliharanya, serta berusaha
menyingkirkan diskontinuitas yang terjadi. Untuk itu, berbagai unsur
pelaku pendidikan di sekolah, baik itu guru, kepala sekolah, staf,
bahkan orangtua dan tokoh masyarakat perlu memahami secara seksama
tentang latar belakang sosiokultural peserta didik sampai pada tipe
kemampuan berpikir dan kemampuan menghayati sesuatu dari lingkungan
yang ada pada peserta didik. Sekolah memiliki kewajiban untuk
meratakan jalan untuk masuk ke jalur kontinuitas.
c.
Rendahnya Komitmen Berbagai Pihak
Pendidikan multikultural
merupakan proses yang komprehensif sehingga menuntut komitmen yang
kuat dari berbagai komponen pendidikan di sekolah. Hal ini kadang
sulit untuk dipenuhi karena ketidaksamaan komitmen dan pemahaman
tentang hal tersebut. Berhasilnya implementasi pendidikan
multikultural sangat bergantung pada seberapa besar keinginan dan
kepedulian masyarakat sekolah untuk melaksanakannya, khususnya adalah
guru-guru.
Arah kebijakan pendidikan di
Indonesia di masa mendatang menghendaki terwujudnya masyarakat
madani, yaitu masyarakat yang lebih demokratis, egaliter, menghargai
nilai-nilai kemanusiaan dan persamaan, serta menghormati perbedaan.
d.
Kebijakan-kebijakan yang Suka Akan Keseragaman
Sudah sejak lama kebijakan
pendidikan atau yang terkait dengan kepentingan pendidikan selalu
diseragamkan, baik yang berwujud benda maupun konsep-konsep. Dengan
adanya kondisi ini, maka para pelaku di sekolah cenderung suka pada
keseragaman dan sulit menghargai perbedaan. Sistem pendidikan yang
sudah sejak lama bersifat sentralistis, berpengaruh pula pada sistem
perilaku dan tindakan orang-orang yang ada di dunia pendidikan
tersebut sehingga sulit menghargai dan mengakui keragaman dan
perbedaan.
- IMPLEMENTASI PENDEKATAN MULTICULTURAL
Dalam
rangka pemenuhan kewajiban mendidik, mengajar, melatih, mengarahkan,
membimbing, menilai dan mengevaluasi, maka prasarat utama yang harus
dimiliki guru adalah kemampuan dalam membangun model pembelajaran
yang efektif, inovatif dan menyenangkan namun tetap relevan dengan
realita di lingkungan masyarakat. Pendekatan integrated
learning dan cooperative
learning adalah beberapa model
pendekatan yang efektif dalam memasukkan pendidikan multikultural ke
dalam PKn di kelas. Beberapa poin penting yang harus dilakukan dalam
memformulasikan pendidikan multikultural dalam PKn yang bersifat
mudah dan efektif yaitu:
- Guru harus merencanakan strategi pembelajaran yang akan dipakai dalam kelas. Slavin (1984) mengatakan bahwa cooperative learning adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif anggotanya terdiri dari 6 orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen (Etin Solihatin dan Raharjo, 2007:4). Jika yang dipakai adalah model cooperative learning, makastrategi ini digunakan untuk menandai adanya perkembangan kemampuan siswa dalam belajar bersama-sama mensosialisasikan konsep dan nilai budaya lokal dari daerahnya dalam komunitas belajar bersama teman. Dalam konteks belajar dengan pendekatan multikultural, penggunaan strategi cooperative learning, diharapkan mampu meningkatkan kadar partisipasi siswa dalam memberikan apresiasi terhadap nilai-nilai lokal serta membangun cara pandang kebangsaan. Dari kemampuan ini, siswa memiliki keterampilan mengembangkan kecakapan hidup dalam menghormati budaya lain, toleransi terhadap perbedaan, akomodatif, terbuka dan jujur dalam berinteraksi dengan teman (orang lain) yang berbeda suku, agama etnis dan budayanya, memiliki empati yang tinggi terhadap perbedaan budaya lain, dan mampu mengelola konflik dengan tanpa kekerasan (conflict non violent).
- Pembelajaran multikultural yang dilaksanakan di kelas oleh siswa bisa dimulai dari hal/perbuatan yang kecil namun penuh makna (meaningfull). Siswa dan guru bisa memulainya bersama dengan melakukan tindakan nyata di kelas yang menunjukkan keterampilan multikultural. Maksudnya adalah sikap yang ditunjukkan karena kesadaran kultural kemudian diimplementasikan dalam suatu tindakan dalam format kemajemukan. Secara praktis bisa dicontohkan yaitu:
- Di awal atau akhir jam belajar guru memulai dengan menyuruh menyiapkan kelas kepada ketua kelas dengan menggunakan bahasa daerah tertentu. Penggunaan bahasa daerah dalam mengawali kelas ini bisa dilakukan setiap pertemuan palajaran PKn (misalnya) di kelas tersebut. Misalnya minggu pertama menyiapkan kelas dengan bahasa Sunda, minggu depan bahasa Minang, dst. Ini dimaksudkan agar guru dan antar siswa minimal mengetahui tentang bahasa daerah suatu masyarakat Indonesia, sebagai kekayaan budaya nasional. Kesadaran multikultural inilah yang mesti dikembangkan dalam kehidupan siswa, walaupun dengan cara yang sederhana.
- Sudah menjadi tradisi di sekolah mayoritas siswanya adalah beragama tertentu karena kuantitasnya banyak, yang menjadi ketua kelas adalah agama mayoritas tadi. Ketua kelas bertugas menyiapkan di awal masuk dan pulang sekolah. Namun tradisi itu pada kondisi tertentu bisa diubah oleh guru. Maksudnya bisa saja guru mengintruksikan kepada siswa yang beragama minoritas untuk menyiapkan memimpin doa di kelas. Penulis pernah mencoba treatment ini, ketika menyuruh siswa yang beragama Katolik untuk memimpin doa di kelasnya, namun secara reaktif siswa lain yang mayoritas terkejut. Kenapa yang disuruh menyiapkan (memimpin doa) adalah agama minoritas. Itulah pertanyaan yang muncul dari mulut polos para siswa. Sebagai pendidik ini bagian dari pembelajaran, respon siswa seperti itu terjadi karena mereka belum terbiasa menerima perbedaan dan memposisikan “yang lain yang berbeda dengan kami” adalah sejajar dan memiliki hak yang sama. Dengan metode sederhana seperti di atas diharapkan akan terbangun karakter inklusif, toleran dan plural dalam diri siswa dan guru. Dari pendekatan sederhana tapi penuh makna (meaningfull approach) ini, melahirkan sikap hidup yang senantiasa menerima perbedaan dalam kehidupan.
- Jika menggunakan pendekatan cooperative learning dalam pembelajaran PKn di kelas, maka guru bisa saja memberikan tugas misalnya kepada siswa yang telah dibagi dalam beberapa kelompok. Terpenting di sini yaitu pembagian kelompok tersebut harus dilakukan oleh guru dengan mempertimbangkan kemajemukan/multikulturalitas siswa tersebut. Umpamanya kelompok dibagi atas pertimbangan asal daerah, suku, agama,, gender dan kemampuan siswa. Siswa tidak boleh dimasukkan dalam kelompok berisikan siswa yang cenderung homogen (tanpa perbedaan agama, budaya, daerah, bahasa, gender dan kemampuan). Jadi dalam satu kelompok terdiri dari siswa yang berbeda secara multikultural. Agar terjadi interaksi antar pribadi yang berlatar berbeda secara horizontal. Ketika mereka telah berinteraksi diharapkan tumbuh sikap toleran, inklusif dan pluralis dalam diri siswa.
- Jika menggunakan pendekatan integrated learning dalam pembelajaran PKn di kelas, maka guru harus memasukkan muatan pendidikan multikultural ke dalam materi-materi pembahasan PKn yang memang relevan. Seperti ketika belajar materi Kewarganegaraan, HAM dan sistem politik di kelas X. Materi budaya demokrasi & masyarakat madani dan budaya politik di kelas XI.. Di kelas XII materi yang relevan yaitu Pancasila sebagai ideologi terbuka kemudian globalisasi. Contoh-contoh materi dalam PKn tersebut bisa diintegrasikan dengan pendidikan multikultural yang sifatnya integral dalam pembahasannya. Ini dilakukan agar materi PKn tersebut tidak an sich dimaknai sebagai PKn itu sendiri namun lebih terbuka dan koheren dengan muatan lain (pendidikan multikultural). Siswa dan guru juga tidak bosan dalam pembelajaran di kelas, karena selalu merelevansikannya dengan muatan multikulturalisme, tentu dengan menggunakan media/alat (LCD/OHP) yang mudah dan efektif dalam pengunaannya. Guru atau siswa bisa juga menghadirkan/membawa contoh-contoh alat peraga yang berkaitan dengan materi PKn tertentu tapi juga relevan dengan konten pendidikan multikultural. Seperti siswa disuruh membawa tayangan (dalam bentuk CD atau lainnya) cerita budaya daerah tertentu. Kemudian dikaitkan dengan materi budaya politik Indonesia atau masyarakat madani. Bisa juga siswa diminta mengemukakan contoh (tentu dengan bukti fisik agar lebih menarik) tradisi daerah, makanan daerah tertentu untuk dianalisis mengenai eksistensi berbagai tradisi lokal tersebut di tengah arus globalisasi sekarang.
Menggagas
pembelajaran PKn yang berbasis pendidikan multikultural ini merupakan
satu metode dan strategi sederhana, dalam rangka menciptakan karakter
anak bangsa yang bisa hidup dalam nuansa perbedaan. Menurut Malik
Fajar bahwa PKn sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak
dan karakter warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab
(Nadiroh, dalam Jurnal Kewarganegaraan, 2006:8). Hal ini terjadi
karena salah satu tujuan PKn adalah mebangun karakter warga negara
yang demokratis (Cholisin, 2006). Pendidikan demokrasi yang menjadi
bagian dalam konten PKn akan tercapai jika komponen-komponen
sosio-kultural Indonesia sebagai bangsa, dipahami sebagai kekayaan
alam nusantara. Komponen-komponen sosio-kultural tadi diformulasikan
dalam bentuk pendidikan multikultural. Oleh guru sebagai mediator di
kelas, dikonstruksi sebuah pendekatan sederhana tapi penuh makna
dalam PKn yaitu berbasis multikultural. Pembelajaran PKn sekaligus
berisikan pendidikan multikultural bisa dan mudah dilaksanakan karena
cirinya yang sederhana, bisa berulang (kontinuitas) dan terjangkau
(karena bisa dilakukan langsung di kelas oleh guru bersama siswa).
Dengan model sederhana ini diharapkan pembelajaran PKn akan lebih
bermakna bagi siswa dan tetap menjadi muatan pembelajaran strategis
dalam upaya membangun karakter bangsa (nation
and character building).
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pendekatan
adalah cara umum dalam memandang suatu permasalahan atau objek
kajian, dalam hal ini adalah pendekatan pembelajaran. Pendekatan
pembelajaran sendiri memiliki arti suatu sudut pandang tentang proses
pembelajaran yang masih dalam arti umum yang didalamnya
dapat mewadahi, menguatkan, memberikan inspirasi
Proses
interaksi pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar pada
siswa ialah bagaimana cara guru melakukan pendekatan yang sesuai
dengan karakter siswa, kurikulum dan meteri pembelajaran.
Sehingga seorang pendidik harus tahu jenis-jenis pendekatan
pembelajaran dan pemahamannya.
Dalam
merancang implementasi pendekatan pembelajaran, harus disesuaikan
dengan perubahan kurikulum yang sedang berlasung. Karena pendekatan
akan lebih efektif dan efisien ketika pendekatan tersebut lebih cepat
mewujudkan tujuan pendidikan sesuai kurikulum yang ada. Berikut
adalah contoh rancangan dalam mengimplementasikan pendekatan
pembelajaran dikaitkan dengan pendekatan saintifik (5M) dalam
kurikulum 2013 yaitu :Pendekatan Inkuiri, Pendekatan berbasis
masalah, Pendekatan Berbasis Proyek, Pendekatan berorientasi pada
siswa.
SARAN
Dari
makalah yang singkat ini mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi
kita semua. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari
kata sempurna, masih banyak kesalahan dari berbagai sisi, jadi
penulis berharap kritik yang bersifat membangun, untuk perbaikan dan
kesempuraan dari makalah ini.
Selain
itu penulis menyarankan kepada pembaca agar memahami dan
memperhatikan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan perubahan
kurikulum yang semakin berkembang dalam mencapai tujuan pendidikan
yang lebih baik
DAFTAR
PUSTAKA
Hanafiah,
Nanang., dan cucu Suhana. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran.
Bandung: PT. Refika Aditama
Kurniasih,
Imas., dan Berlin Sani. 2015. Ragam Pengembangan Model Pembelajaran
Untuk Meningkatkan Profesionalitas Guru. Jakarta: Kata Pena.
Alhamdulillah setelah saya membaca artikelnya saya lebih memahami rpp dengan model dick and curey ini
BalasHapus